Wora wari
May 8th, 2008 | | life
Gara kelamaan nunggu angkot di seberang mall Olympic Garden (yg hampir jadi) membuat saya iseng2 ngeliatin tanaman yg ada di deket trotoar. Wah, ternyata nemu bunga jadul yang saya kira sudah punah (halah!), habisnya dah jarang banget ditemukan sih..
Akhirnya saya petik bunganya satu buat ntar difoto dirumah, secara kamera hape saya hasilnya ga gitu bagus. Seneng banget bisa nemu bunga ini, soalnya ni bunga ada kaitannya dengan sejarah masa kecil saya yang meskipun ndeso tetapi sangat menyenangkan, hehehe..
Waktu kecil sih nyebutnya apa ya kok lupa, hehehe… Masih kerabatnya bunga sepatu yang marak di semua tempat ( Hibiscus rosa-sinensis ) sih, cuman beda nama belakangnya aja (masih satu marga). Ada 2 jenis yang sangat mengingatkan pada masa kanak-kanak saya, si wora wari bang dan Hibiscus schizopetalus (Mast.) Hook.f.
Kata ibunya si jeng, itu namanya wora wari bang. Warnanya merah dengan mahkota bunga yang posisinya seperti payung yang habis ditutup (belum dikancing). Hubungannya dg masa kecil? Ni bunga sangat berjasa dalam kancah permainan seantero kampung. Nah, waktu kecil tuh kami para anak2 imut nan lugu biasa bermain “pasar-pasaran/pasaran”. Jadi, semacam tiruan aktivitas para penjual dan pembeli di pasar.
Yang dijual dalam “pasaran” ini biasanya berupa makanan, yaitu nasi pecel, urap2/sayur, sambel. Selain itu juga jualan minyak goreng. Nasi alias tanah, dengan rajangan halus dedaunan sebagai sayur imitasi, dan tanah dicampur air sebagai sambel pecel, serta mahkota bunga wora wari yang ditumbuk sebagai sambel bajaknya. Hehehe.. murah meriah kan?
Nah, bunga wora wari dalam hal ini sangat berperan, karena kami menggunakan bunganya sebagai cabe tiruan untuk menghasilkan efek warna merah cabe. Trus daunnya kami campur dengan air dan diperas untuk menghasilkan minyak goreng tiruan. Perasan daun wora wari ini menampakkan warna dan kekentalan persis minyak goreng. Kecil-kecil kreatip juga kan kami ini, hehehe…
Nah, masih ada satu rahasia lagi.. Kami juga sering ‘berburu” sari bunga wora wari, yaitu dengan melepas kelopak bunga pada pangkal bunga wora wari dan menghisapnya. Waw, manis lho!! *serasa saingan sama lebah* Hwahaha.. klo anak kecil tuh ga ada malu2nya ya, sikat habis…
Eh, ternyata ibunya si jeng ini jaman kecil dulu juga melakukan permainan kayak sayah lho.. Wah, ceritanya turun temurun niy, padahal ibunya dimana, saya dimana, hehehe.. Tapi permainan2 “tradisional” sekarang udah jarang banget, sudah didominasi oleh permainan2 instan yang banyakan (menurut saya) tidak mengajarkan nilai-nilai yang baik kepada anak.
Hmmm.. diriku jadi pengen balik ke masa kecil yang bahagia itu..dan juga nyemplung sawah, nakutin burung pake orang2an sawah, mancing, mencari buah di hutan kecil.. that’s awesome!
No comments yet.
feel free to leave a comment
Comment Guidelines: Basic XHTML is allowed (a href, strong, em, code). All line breaks and paragraphs are automatically generated. Off-topic or inappropriate comments will be edited or deleted. Email addresses will never be published. Keep it PG-13 people!
XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
All fields marked with " * " are required.






